Tampilkan postingan dengan label Penyakit Ternak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Ternak. Tampilkan semua postingan

Macam-macam Penyakit pada Mamalia

PENYAKIT VIRAL adalah penyakit yang disebabkan oleh Virus.
Read More

Penyakit Trichomoniasis

Sinonim : Trichomonosis = (sekarang dinamakan Tritrichomonosis), Bovine Trichomoniasis, Bovine Genital Trichomoniasis, Bovine Trichomonad Abort
Read More

Penyakit Toxoplasmosis

A. PENDAHULUAN
Read More

Penyakit Scabies

Sinonim: gudigan, budug, kudis, mange.
Read More

Penyakit Myasis

Sinonim : Belatungan, Baulat, Koreng, Borok
Read More

Penyakit Kaskado

Sinonim : Stephanofilariasis
Read More

Penyakit Fasciolosis

Sinonim : Distomatosis, Penyakit Cacing Hati.
Read More

Penyakit Echinococcosis

Sinonim: Kista Hidatidosa
Read More

Penyakit Demodecosis

Sinonim: Kudis menular, Budug, Mange, Colak
Read More

Penyakit Cystecercosis

Synonim : Beberasan, Barrasan, Manis-manisan, pork measles
Read More

Penyakit Babesiosis

Sinonim : Piroplasmosis, Mexican fever (Demam Mexiko), red water, splenic fever, bloody murrain Texas Fever (Demam Texas Sapi), Cattle Tick Fever
Read More

Penyakit Ascariasis

Sinonim : Kecacingan
Read More

Penyakit Anaplasmosis

Sinonim : Gall – Sickness

A. PENDAHULUAN

Anaplasmosis adalah penyakit hewan menular yang bersifat non contagious yang disebabkan oleh protozoa darah intraseluler dan ditularkan dengan perantara vektor. Penyakit ini dapat berlangsung secara akut, per-akut dan kronis. Gejela klinis yang ditimbulkan antara lain demam tinggi, anemia yang progresif dan ikterus tanpa hemoglobinuria. Penegakan diagnostik Anaplasmosis ditandai dengan adanya agen Anaplasma yang berbentuk titik didalam sel darah merah.

Kasus Anaplasmosis lebih sering menyerang sapi dan kerbau dibandingkan dengan hewan lainnya. Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Smith dan Kilborne pada tahun 1893 di Amerika Serikat, selanjutnya tersebar luas di daerah tropik dan subtropik termasuk di Amerika Serikat dan Selatan, Eropa Selatan, Afrika, Asia dan Australia. Di daerah bebas anaplasmosis, introduksi protoza ini mampu menimbulkan kematian yang tinggi pada ternak karena belum adanya preimuniter. Di Amerika, kasus Anaplasmiosis dilaporkan menyebabkan kematian ternak sebesar 80 %, sedangkan di daerah enzootik berkisar 10 %.

Kerugian ekonomi yang ditimbulkan penyakit ini meliputi kematian, penurunan berat badan, penurunan produksi susu, infertilitas dan peningkatan biaya pengobatan. Di Indonesia, menurut perhitungan Direktorat Kesehatan Hewan tahun 1978, kerugian ekonomi yang ditimbulkan penyakit ini meliputi kematian, penurunan berat badan dan daya kerja terhadap usaha pertanian, di perkirakan sebesar Rp. 500.000.000 lebih setiap tahun. Dalam perhitungan tersebut belum termasuk pengafkiran karkas di rumah potong hewan dan penurunan produksi susu. Salah satu tindakan yang dilakukan untuk mengurangi kejadian anaplasmosis adalah dengan cara meningkatkan ketahanan hewan yang rentan.

B. ETIOLOGI

Anaplasmosis disebabkan oleh golongan Rickettsia, keluarga Anaplasmataceae, genus Anaplasma. Penyakit klinis pada sapi umumnya disebabkan oleh Anaplasma marginale, sedangkan infeksi akibat A.centrale belum dilaporkan secara jelas. Baru-baru ini, dilaporkan adanya A.phagocytophilum yang menginfeksi sapi, namun sangat jarang ditemukan. Anaplasma ovis / A.suis dapat menyebabkan penyakit yang ringan sampai berat pada domba, kambing, dan rusa.

Anaplasma marginale terdapat di dalam sel darah merah, berbentuk bulat dan padat berwarna merah cerah atau merah tua dengan diameter 0.1-1.0 μm. Perbedaan antara A.marginale dan A.centrale terletak pada lokasi protozoa tersebut di dalam sel darah merah. Anaplasma marginale terletak di bagian tepi dari sel darah merah, sedangkan A.centrale terletak di bagian tengah.
Gambar 1. Anaplasma marginale

Gambar 2. Anaplasma centrale

Sifat Alami Agen Anaplasma marginale dapat ditularkan oleh lalat penghisap darah (haematophagous bitting flies) dan mampu bertahan hidup dalam tubuh lalat lebih dari 30 menit. Selain itu, pada inang yang mati, protozoa ini dilaporkan mampu hindup hingga 6 jam.

Kekebalan terhadap anaplasma ada 2 macam :
a. Kekebalan bawaan (material immunity) yang diperoleh dari induknya dan bertahan kira-kira 1,5 bulan.
b. Kekebalan perolehan (natural acquired immunity) dikenal dengan preimunitas.
Kekebalan ini tetap bertahan selama anaplasma berada di dalam tubuh hewan. Preimunitas ini dapat berlangsung hingga 2 tahun tanpa adanya reinfeksi. Jika pada suatu saat anaplasma hilang dari sirkulasi darah, maka kekebalan akan menurun dan akhirnya hilang.

C. EPIDEMIOLOGI

1. Spesies Rentan
Anaplasmosis dilaporkan menyerang hampir semua hewan berdarah panas seperti sapi, kerbau, domba, rusa, unta, babi, kuda, keledai, anjing dan hewan liar lainnya. Umumnya hewan tua lebih rentan daripada hewan muda. Hewan yang berumur di bawah satu tahun masih memiliki ketahanan bawaan dari induknya. Adapun hewan berumur 1 - 3 tahun biasanya menderita anaplasmosis dalam fase akut, sedangkan hewan berumur diatas 3 tahun biasanya per-akut. Anaplasmosis kronis diderita oleh hewan yang terinfeksi dalam waktu yang lama dan berpotensi menjadi pembawa/carrier.

Selain umur, bangsa serta asal hewan berpengaruh terhadap kerentanan penyakit ini. Sapi Eropa (Bos Taurus) lebih rentan dari pada sapi Zebu (Bos indicus). Kasus anaplasmosis pada manusia pernah juga dilaporkan akibat gigitan vektor dan menyebabkan granulositik anaplasmosis.

2. Cara penularan

Spesies caplak (Boophilus sp, Dermacentor sp, Rhipicephalus sp, Ixodes sp, Hyalomma sp, Ornithodoros sp) adalah vektor biologis anaplamosis, namun tidak semua spesies ini ditemukan dalam suatu wilayah. Vektor ini dapat berpindah secara trans-stadial (antar stadium) dan trans-ovarial (ke telur). Boophilus sp dilaporkan sebagai vektor utama di Australia dan Afrika, sedangkan Dermacentor sp adalah vektor utama di Amerika Serikat.

Di samping itu, golongan Diptera seperti lalat penghisap darah (Tabanus sp dan Stomoxys sp) dan nyamuk (Aedes sp dan Psarophora sp) dapat bertindak sebagai vektor mekanis. Manusia juga dapat menjadi vektor mekanis melalui penggunaan alat-alat bedah, jarum, peralatan tato, dan alat- alat yang terkontaminasi Anaplasma.

D. PENGENALAN PENYAKIT

1. Gejala Klinis
Periode kejadian penyakit dibagi 4 tahap, meliputi tahap inkubasi, perkembangan, penyembuhan, dan carrier. Masa inkubasi anaplasmois adalah 6-38 hari dan tahap perkembangan dapat terjadi 15-45 hari. Penyakit ini dapat bersifat per-akut, akut, sub-akut, dan kronis bergantung pada umur dan status imunitasnya.

a. Per-akut :
Hewan yang menderita anaplasmosis per-akut akan mati setelah beberapa jam menunjukkan gejala umum sakit. Hewan mengalami penurunan kondisi dengan cepat, kehilangan nafsu makan, kehilangan koordinasi dan sesak nafas. Temperatur hewan biasanya lebih dari 41°C dan mukosa cepat menjadi kuning.

b. Akut :
Umumnya hewan penderita anaplasmosis akut menunjukkan gejala klinis umum antara lain kenaikan suhu 39,5-42,5°C, ikterus, penurunan berat badan, dehidrasi, konstipasi, dan gangguan pernafasan.

c. Sub-akut dan kronis :
Pada penyakit sub-akut dan kronis terjadi kenaikan suhu selama beberapa hari (4-10 hari) disusul dengan demam intermiten bahkan suhu tubuhnya mencapai 40°C. Disamping itu, terjadi anemia hebat, kondisi badan menurun, kadang-kadang nafsu makannya masih ada. Pada hewan bunting dapat terjadi keguguran.

Pada hewan penderita yang tidak menunjukkan gejala klinis, Anaplasma dapat bertahan dalam tubuh sampai 2 tahun, walaupun dalam darah perifer sulit ditemukan. Jika hewan mengalami stres, maka hewan tersebut dapat berperan sebagai pembawa penyakit.

2. Patologi

Perubahan yang sangat menonjol adalah pada gambaran darah yang ditandai dengan anemia dan ikterus. Bangkainya terlihat anemik, kahektik dan ikterik. Kelenjar limfenya membesar terlihat ada edema. Jantung mengalami pembesaran dan terdapat titik-titik perdarahan (ptechiae). Anemik juga terlihat ada paru-paru yang disertai emfisema, pembesaran hati dan warnanya merah kekuningan, pembesaran empedu serta lunak. Limpanya juga mengalami pembesaran dan lunak. Umumnya terdapat gastroenteritis kataralis dan terjadi pembendungan pada ginjal.

3. Diagnosa
a. Pemeriksaan Mikroskopis :
Pemeriksaan darah secara natif, preparat ulas darah tipis dan tebal.

b. Pemeriksaan Biologis :
Darah hewan tersangka diinokulasikan ke dalam (hewan coba) yang telah diambil limpanya (splenectomy) dan sebaiknya berasal dari daerah endemik anaplasmosis.

c. Pemeriksaan Serologis :
Pemeriksaan serologis meliputi Uji Fiksasi Komplemen/CFC, Uji Hemaglutinasi Tabung Kapiler/Capillari tube hemaglutination test/UHTK dan Teknik Antibodi Flourescent/FAT

4. Diagnosa Banding
Anaplasmosis per-akut atau akut mirip dengan penyakit anthraks, pneumonia, keracunan, gangguan pencernaan akut, sampar sapi dan pasteurellosis. Apabila anemianya menonjol, maka penyakit ini harus dibedakan dari leptospirosis dan hemoglobinuria basiler akut. Adanya demam, anemia dan ikterus menyebabkan penyakit ini sulit dibedakan dengan babesiosis dan trypanosomiasis.

E. PENGENDALIAN

1. Pengobatan
Pengobatan Anaplasmosis dapat dilakukan dengan cara antara lain: Zat-zat warna
- Trypan blue 1 %, dosis 100-200 ml/hewan IV/SK
- Acriflavin 5 %, dosis 20 ml/hewan IV/IM
- Eufalvine 5 %, dosis 4-8 ml/100 kg bb IV

Sediaan Quinoly
- Acaprin 5 % (Babesan, ludobal, pirevan, zothelone), dosis 2,2 ml/kg bb IV/SK

Diamidine Aromatik
- Phentamidine dan Phenamidin 40 %, dosis 13,5 mg/kg bb SK
- Berenil (Ganaseg), dosis 3,5 mg/kg bb IM/SK
- Amicarbalide (Diampron) 50%, dosis 10 mg/kg bb
- Imidocidoib (Imizol) 4,6%, dosis3,5 mg/kg bb IM/SK

Antibiotika
- Tetracycline : Dosis untuk babi 22 mg/kg bb IV
Dosis untuk sapi 11 mg/kg bb Oral, 5 hari
Dosis untuk kuda 5-7,5 mg/kg bb IV Obat-obatan yang lain
- Haemosporidine 2 % : Novoplasmin, thiargen, sulfantrol, dosis 0,25 mg/ kg bb SK
- Haemosporidine 10 % : dithiosemicarzone (gloxazone), dosis 0,1 mg/kg bb IV

2. Pelaporan, Pencegahan, Pengendalian dan Pemberantasan

a. Pelaporan
Bagi para petugas yang menemukan anaplasmosis pada ternak ruminansia atau hewan rentan diwajibkan :

(1) Melaporkan timbulnya penyakit dan tindakan yang telah diambil kepada kepala pemerintah daerah setempat dengan tembusan kepada Dinas Peternakan atasannya.
(2) Apabila dipandang perlu, dengan mempertimbangkan luas sebaran penyakit maka merekomendasikan kepada kepala pemerintahan daerah setempat untuk mengeluarkan surat keputusan tentang penutupan suatu daerah dan pembatasan lalu lintas temak/hewan rentan di dalam wilayahnya.
(3) Melakukan tindakan yang dianggap perlu sesuai dengan peraturan- peraturan yang bertaku dan melaporkannya kepada atasan.

b. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan mengadakan imunisasi buatan. Vaksin anaplasmosis terdiri dari vaksin hidup atau mati, dan diketahui 3 jenis vaksin.

c. Pengendalian dan Pemberantasan
Berdasarkan peraturan yang ada, usaha pengendalian dan pemberantasan penyakit ini meliputi tindakan sebagai berikut :

(1) Ternak ruminansia/hewan rentan lain yang menderita anaplasmosis atau tersangka sakit harus diasingkan sehingga tidak dapat berhubungan dengan ternak ruminansia/hewan rentan lain.
(2) Jika pada ternak ruminansia/hewan rentan lain yang sakit atau tersangka sakit ditemukan caplak, nyamuk dan lalat, maka vektor tersebut harus dimusnahkan, antara lain dengan pemakaian pestisida (misalnya dengan menyemprot, menggosok, memandikan atau merendam hewan) sesuai dengan petunjuk pemakaian.
(5) Di pintu masuk halaman, kampung, desa atau daerah yang terdapat ternak ruminansia/hewan rentan lain yang sakit atau tersangka sakit, di pasang papan yang antara lain bertuliskan ”Penyakit hewan menular anaplasmosis” disertai dengan nama dalam bahasa daerah setempat.
(9) Ternak ruminansia/hewan ternak lain yang mati karena anaplasmosis harus dibakar dan/atau dikubur.
(12) Suatu daerah dinyatakan bebas dari penyakit anaplasmosis setelah 2 bulan sejak matinya atau sembuhnya ternak ruminansia/hewan rentan lain yang terakhir.


F. DAFTAR PUSTAKA

Aiello ES 1998. Merck Veterinary Manual. Eight Edition. Merck and Co. Inc.Whitehouse Station, NJ. USA.

Anonim 1981. Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Petemakan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Breitschwerdt EB 2007. How I Treat Anaplasmosis of Cats, Dogs, Horses, Mice and Men. Proceedings of Southern European Veterinary Conference.

Centers of Disease Control and Prevention 2010. Anaplamosis. [terhubung berkala]. http://www.cdc.gov/anaplasmosis/.html [22 Oktober 2012].

Craig and Faust’s 1997. Clinical Parasitology. Eight edition

Gary 2003. Bluetongue dan Anaplasmosis. Canadian Food Inspection Agency. [terhubung berkala]. http://pnwer.dataweb.com/tables/jointables/meeting participantjoin/ files/presentation/Kruger.pdf [26 Februari 2012]

Kementan, 2014. Manual Penyakit Hewan Mamalia

The Merck Veterinary Manual 2005. Anaplasmosis. [terhubung berkala]. http:// www.merckvetmanual.com/mvm/index.jsp?cfile=htm/bc/10401.htm [22 Oktober 2012].

Terrestrial Animal Health Code 2011. Bovine Anaplasmosis. [terhubung berkala]. http://www.oie.int/fileadmin/Home/eng/Health_standards/tahc/ 2010/en_ chapitre_1.11.1.pdf. [26 Februari 2012].

Terrestrial Manual 2008. Bovine Anaplasmosis. [terhubung berkala]. .http:// www.oie.int/fileadmin/home/eng/health_standards/tahm/2.04.01_bovine_ anaplasmosis.pdf [26 Februari 2012].

Saulby.EJL 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animal. Seventh Edition. Bailliere Tindall. London

Stokka GL, Falkner R, Van Boening J 2000. Anaplasmosis. Kansas : Kansas State

Read More

Penyakit Selakarang

Sinonim : Lymphangitis epizootica, Pseudoglanders, Saccharomycosis, Pseudomalleus, African farcy, Histoplasmosis kuda, Epizootic lymphangitis, Equine cryptococcosis
Read More

Penyakit Ringworm

Sinonim: Dermatomycosis, Tinea, Favus unggas, Kurap, Tinea, Trichophytosis

A. PENDAHULUAN

Ringworm adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cendawan yang bersifat keratinofilik pada permukaan kulit atau bagian dari jaringan lain yang mengandung keratin (bulu, kuku, rambut dan tanduk) baik pada hewan maupun manusia. Beberapa spesies cendawan bersifat zoonosis karena hewan penderita dapat merupakan sumber penularan pada manusia dan sebaliknya. Mortalitas penyakit rendah, namun kerugian ekonomis dapat terjadi karena mutu kulit yang menurun atau berat badan turun karena hewan selalu gelisah. Penyakit ini sering dijumpai pada hewan yang dipelihara secara bersama-sama dan merupakan penyakit mikotik yang tertua di dunia.

Penyakit kulit ini dinamakan ringworm karena pernah diduga penyebabnya adalah worm dan karena gejalanya dimulai dengan adanya peradangan pada permukaan kulit yang bila dibiarkan akan meluas secara melingkar seperti cincin.

B. ETIOLOGI

Cendawan penyebab penyakit ini termasuk dalam kelompok Dermatophyta. Terdapat empat genus, yaitu Trichophyton, Microsporum, Epidermophyton, Keratinomyces, namun yang menyebabkan penyakit pada hewan adalah Trichophyton dan spesies Trichophyton verrucosum, T.mentagrophytes dan T.megninii dan genus Microsporum. Lebih dari 90% kasus pada kucing disebabkan oleh M.canis.

Di negara-negara yang berikilim tropis atau dingin, kejadian Ringworm lebih sering karena dalam bulan-bulan musim dingin, hewan selain kurang menerima sinar matahari secara langsung juga sering bersama-sama di kandang sehingga kontak langsung diantara sesama individu lebih sering terjadi. Penyebaran penyakit dapat terjadi karena kontak langsung dengan hewan atau patahan bulu yang terinfeksi.

Pada dasarnya cendawan diklasifikasikan berdasarkan habitat, spesies yang diserang, lokasi spora pada rambut, sifat pertumbuhan, dan lokasi tempat tumbuhnya.
a. Habitat : geofilik yang terdapat dalam tanah dan keratinofilik yang terdapat pada jaringan yang membentuk keratin (epitel, tanduk, rambut, kuku).
b. Spesies : anthropofilik menyerang manusia dan zoofilik menyerang hewan
c. Lokasi spora pada rambut : eksotriks berlokasi di luar dan endotriks di dalam rambut.
d. Pertumbuhan pada kultur : berdasarkan sifat pertumbuhannya di dalam kultur
e. Lokasi pada tubuh : seluruh permukaan tubuh.

C. EPIDEMIOLOGI

1. Spesies rentan
Ringworm dapat menginfeksi hewan antara lain sapi, kuda, anjing, kucing dan unggas, demikian pula dapat menyerang manusia. Banyak jenis Ringworm yang sangat kontagius, yaitu ringworm pada kucing, anjing, kuda dan sapi mudah menular ke manusia.

Hewan lain yang rentan terhadap cendawan ini antara lain kelinci, cavia, chinchillas, mencit, rat, kalkun, kera. Kadang-kadang terjadi pada oposum, tikus air dan jarang pada babi, kambing, burung liar, keledai.

2. Pengaruh Lingkungan
Ringworm tersebar luas di negara tropis, beriklim panas atau sedang terutama jika udara lembab. Walau demikian distribusi geografis penyakit ini bervariasi. Di negara yang mempunyai 4 musim, kasus yang paling sering terjadi pada musim dingin dan musim semi. Menurut British report, hal ini merupakan indikasi adanya variasi dalam musim. Di samping itu ada perbedaan geografis yang menarik yang berhubungan dengan penyakit endemik Dermatophyton dimana Microsporum canis merupakan agen penyebab kurang lebih 95 % pada kucing dan 70 % pada anjing di Amerika utara.

3. Sifat Penyakit
Ringworm cepat menular di antara kelompok hewan (morbiditas tinggi) dengan mortalitas yang rendah. Zoofilik dermatophytosis dapat menyebabkan epidemik pada manusia. Kaplan dkk melaporkan bahwa dari 360 anjing penderita ringworm, 10 % pemiliknya mengalami infeksi, demikian juga 30 % pemilik kucing yang terinfeksi menderita penyakit ini. Perlu dicatat, bahwa hewan liar juga bisa menjadi reservoir dari ringworm.

Bentuk yang dapat dikenali dari kulit manusia hampir sama dengan infeksi pada kulit kucing atau hewan lainnya. Bulat kemerahan dengan lesi menyerupai kawah yang terkadang berisi air, rasa gatalnya teramat sangat, apabila digaruk akan semakin besar dan melebar dengan lesi yang semakin dalam. Penyembuhan secara total pada hewan maupun manusia perlu dilakukan, penanganan yang tidak tuntas memungkinkan cendawan tumbuh kembali sehingga lebih sulit dibasmi.
Read More

Penyakit Mastitis Mikotik

A. PENDAHULUAN

Mastitis merupakan peradangan/inflamasi pada jaringan internal ambing atau kelenjar mammae yang disebabkan oleh mikroba (bakteri, virus, cendawan), zat kimiawi, dan luka akibat mekanis. Mastitis biasanya diawali dengan galactophoritis atau peradangan pada duktus/saluran mammae. Mastitits mikotik adalah mastitis yang disebabkan oleh mikroba jenis cendawan (kapang dan khamir). Meskipun mastitis mikotik prevalensinya tidak sebesar mastitis bakterial namun perlu diwaspadai karena biasanya kasusnya subklinis dan kronis. Infeksi yang terjadi tergantung dari jenis dan banyaknya jumlah cendawan yang menginfeksi. Mastitis dapat menyebabkan kerugian secara ekonomi karena dapat menurunkan produksi, kualitas dan komposisi susu serta menyebabkan gangguan kesehatan hewan.

B. ETIOLOGI

Penyebab mastitis mikotik adalah cendawan: 1) golongan kapang yang bermiselium sejati (Aspergillus spp, Alternaria spp, Aerobasidium spp, Epicocum spp, Geotrichum spp, Penicillium spp, Phoma spp, dan Pichia spp), dan 2) golongan khamir yang bersel satu dan tidak/bermiselium semu (Candida spp, Cryptococcus sp., Rhodoturrula spp, Trichosporon spp dan Saccharomyces spp). Namun umumnya kasus mastitis mikotik lebih sering disebabkan oleh khamir khususnya Candida spp yang tergolong grup organisme uniseluler oportunistik. Penyebab lain dari mastitis mikotik pada anjing adalah Blastomyces dermatitidis, merupakan cendawan dimorfik golongan khamir dan biasanya terdapat di lingkungan.

C. EPIDEMIOLOGI

1. Spesies rentan
Hewan yang rentan terhadap kasus mastitis mikotik adalah mamalia atau hewan yang menyusui anaknya, namun lebih sering terjadi pada hewan yang memproduksi susu dan diperah (sapi, kambing, kerbau dan kuda). Kasus penyakit mastitis mikotik juga dapat terjadi pada manusia.

2. Pengaruh Lingkungan
Lingkungan yang tidak bersih, kelembaban yang tinggi dapat memacu pertumbuhan dari cendawan penyebab mastitis. Negara tropis yang mempunyai kelembaban cukup tinggi lebih mudah untuk pertumbuhan cendawan.

3. Sifat Penyakit
Sifat penyakit mastitis mikotik biasanya kronis. Mastitis mikotik biasanya terjadi akibat pemakaian antibiotika dalam jangka panjang. Beberapa cendawan yang tadinya flora normal di dalam tubuh dapat menjadi patogen apabila hewan mengalami penurunan daya tahan tubuh (imunitas). Mastitis mikotik juga bisa bermula dari mastitis bakterial dan berlanjut menjadi mastitis mikotik.

4. Cara Penularan
Proses infeksi mastitis terjadi melalui beberapa tahapan, tahap awal kontak dengan mikroba (cendawan), kemudian mikroba tersebut mengalami multiplikasi di sekitar lubang puting (sphincter), setelah itu mikroba masuk kedalam jaringan akibat lubang puting yang terbuka ataupun karena adanya luka. Penularan mastitis mikotik dapat terjadi dari alat perah, tangan pemerah, pakan yang terkontaminasi, lantai kandang, tanah, debu, sanitasi lingkungan yang buruk.

D. PENGENALAN PENYAKIT

1. Gejala Klinis
Gejala klinis mastitis dapat dibedakan secara umum menjadi mastitis perakut, akut, subakut, subklinis, dan kronis. Kasus mastitis subklinis adalah yang paling sering terjadi, diperkirakan 15-40 kali lebih banyak dibandingkan dengan mastitis klinis. Perakut ditandai dengan onset yang tiba-tiba terjadi peradangan parah pada ambing, air susu berubah

menjadi serous. Pada mastitis akut ditandai dengan tiba-tiba, peradangan pada ambing derajatnya sedang sampai parah. Mastitis subakut ditandai dengan peradangan yang ringan, tidak terlihat perubahan penampilan ambing, namun terjadi perubahan dari komposisi penampilan air susu, juga akan terjadi pecahnya permukaan susu. Mastitis subklinis tidak jelas gejala klinisnya namun terkadang terjadi perubahan komposisi air susu. Mastitis kronis gejalanya seperti mastitis subklinis namun kejadiannya berlangsung lebih lama. Mastitis mikotik biasanya tergolong kasus yang kronis dan subklinis.

Gejala klinis pada hewan adalah demam, lemah, sapi berdiri dengan jarak kedua kaki belakang melebar (karena membesarnya ukuran ambing), kehilangan berat badan/kurus, produksi susu menurun. Pada ambing terlihat bengkak, kemerahan dan panas, serta keluar eksudat dari puting. Pada kasus mastitis mikotik, biasanya ditandai dengan gagalnya usaha pengobatan dengan antibiotika, karena mastitis mikotik disebabkan oleh cendawan. Susu yang dihasilkan menurun kuantitas dan kualitasnya, susu berwarna putih keabuan hingga kekuningan, buram dan mengental (mukoid).
Gambar 3. Gejala klinis ambing sapi yang menderita mastitis
2. Patologi
Pada sapi yang menderita mastitis mikotik akan terlihat ambingnya bengkak dan keluar eksudat. Apabila dilakukan insisi pada ambing akan terlihat eksudat yang berwarna kekuningan. Mastitis yang disebabkan oleh cendawan jenis Cryptococcius neoformans dan Candida albicans bersifat granulomatous. Peradangan granulomatous ditandai dengan pus/ eksudat berwarna kuning, dan secara histopatologi dapat terlihat banyaknya sel radang dan central necrotic debris.

Pada kambing dengan percobaan mastitis mikotik dengan menginokulasikan Candida albicans secara intramamari akan menyebabkan leukositosis dan neutrophilia, secara mikroskopik akan terlihat perjalanan infeksi dari mulai mastitis akut purulen, kronis, nonpurulen dan berlanjut menjadi granulomatous, terlihat juga adanya kerusakan jaringan pada ambing (Singh et al, 1998).

3. Diagnosa
Diagnosa dapat ditentukan dari gejala klinis dan identifikasi cendawan. Isolasi dan identifikasi cendawan dilakukan dengan mengambil susu dari hewan penderita kemudian dikultur dan dilakukan uji biokimiawi. Kultur dapat dilakukan dalam media sabourauds glucose/dextrose agar, lalu diamati koloninya. Pada pemeriksaan secara mikroskopik dengan menambahkan lactophenol cotton blue (LPCB) dapat diamati adanya hifa, spora dan miselium dari cendawan penyebab mastitis. Pada hewan yang sudah mati atau disembelih untuk peneguhan diagnosa dapat pula dilakukan pemeriksaan patologi anatomi dan histopatologi, pada jaringan organ mammae yang terinfeksi akan ditemukan hifa atu spora cendawan.

Deteksi cendawan dengan menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) juga dapat dilakukan. Metode PCR memiliki keuntungan dibandingkan dengan metode lain, karena metode PCR dapat mendiagnosa mastitis mikotik walaupun cendawan yang menginfeksi berjumlah sedikit.

Gambar 2. Pertumbuhan koloni Candida spp dalam media sabourauds glucose agar, kasus mastitis pada sapi perah FH
(Sumber : Tarfarosh dan Purohit, 2008)

4. Diagnosa Banding
Pada mastitis dengan adanya pembengkakan yang terjadi pada ambing maka diagnosa banding untuk mastitis adalah neoplasia/tumor mammae.

E. PENGENDALIAN

1. Pengobatan
Pengobatan dapat dilakukan dengan nistatin dengan dosis 10 g/ kuartir, obat diaplikasikan melalui puting. Selain itu juga diberikan larutan desinfektan povidin iodin. Selain itu dapat diberikan amphotericin, clotrimazol, ketoconazole, fluorocitonin,miconazol dan polimixin.

2. Pencegahan, Pengendalian dan Pemberantasan
Read More